Friday, June 25, 2010

Perhatikanlah Wahai Wanita

Perhatikanlah Wahai Wanita

Apabila kaum muslimah keluar di jalan_jalan sesuai dengan pemampilan yang mereka inginkan iaitu berhias diri dan dengan sengaja menampakkan keindahan tubuhnya. Jika itu terjadi, maka ia akan berpengaruh terhadap tiga sector:

Pertama: Mereka menjadi sibuk di luar rumah dan meninggalkan urursan rumah tangganya. Ketika seorang muslimah memilih untuk bekerja diluar rumah, itu beerti focus mereka akan beralih dan tidak lagi mementingkan bagaimana mendidik dan mengasuh anak-anak mereka. Sebagai gantinya, mereka menyerahkan pendidikan anak-anak mereka kepada pembantu yang bias jadi memang boleh memenuhi semua keperluan anak. Akan tetepi, tetap sahaja ia tidak dapat menggantikan kasih sayang, kelembutan dan kecintaan seorang ibu kepada anak kandungnya. Jika hal itu terjadi, maka menurut para musuh islam, mereka telah berhasil mengalahkan kaum muslimin dalam sektor pendidikan anak, dimana anak-anak diserahkan pendidikannya kepada orang yang tidak mempunyai cinta, kasih saying dan kelembutan seperti halnya yang dimiliki oleh seorang ibu kandung.

Kedua: Membuatnya keluar rumah dengan memperlihatkan keindahan dirinya tanpa menghiraukan batasan aurat yang telah ditetapkan (Tabarruj). Menurut musuh islam, apabila mereka telah berhasil membuat kaum muslimah mengabaikan batasan aurat mereka, maka dengan sendirinya mereka akan memepertontonkan sisi-sisi keindahan dalam tubuh mereka, dan itu tentunya akan berpengaruh besar terhadap masyarakat, baik itu kaum laki-laki yang sudah menikah maupun para pemuda yang belum menikah, terlebih mereka yang belum bekarja.

Para pemuda yang baru mencapai usia remaja, biasanya mereka tidak peduli kecuali ingin memenuhi segala keinginan dan hawa nafsunya. Seandainya mereka melihat gadis-gadis di jalanan dalam keadaan membuka aurat dan memperlihatkan keindahan tubuh mereka , maka ketika itu mereka pasti akan tergoda, maka jika telah tergoda maka akan rosaklah perilaku mereka, sehingga dengan demikian pada akhirnya kesucian masyarakat muslim pun akan ternodai.

Ketiga: Komponen masyarakat muslim lainnya yang menjadi target adalah kaum muslimin yang telah menikah, khususnya yang telah berumur empat puluh tahun ke atas dan menikah dengan perempuan yang berbeda usia dengannya tidak lebih dari sepuluh tahun. Menurut para musuh islam, apa yang terjadi apabila seorang suami mendapatkan isterinya telah mulai tua dan memudahkan kecantikannya setelah melahirkan beberapa anak dan sebuk mengurusi beberapa urusan rumah tangga, lalu ketika dia keluar di jalan-jalan, dia mendapatkan gadis-gadis muda yang cantik yang berusia belasan tahun dengan dandanan yang seksi. Tidak diragukan lagi, mereka akan membandingkan yang dilihatnya dijalanan dan yang ditemukannya di rumah. Jika mereka benar-benar tidak dapat mengendalikan dirinya, tentu masyarakat muslim akan benar-benar rosak. Demikianlah para musuh Islam dalam menyusun strateginya untuk menghancurkan Islam, iaitu dengan mengangkat isu kebebasan hak-hak perempuan.

Kembali kepada ajaran Islam, ketika Islam memerintahkan kaum mulsimah untuk berhijab dan menutup aurat mereka, sesungguhnya saat itu Islam bermaksud untuk menjaga kehidupan mereka. Ketika Islam melarang tabarruj dan menampakkan keindahan tubuh di jalan-jalan, itu artinya membuat kaum lelaki tiudak mengetahui kecuali wajah isterinya dan dia pun tidak akan membuat perbandingan antara kecantikan yang ditemukannya di jalanan atau memperbandingkan gadis-gadis muda dengan segala kegesitan merekan dengan isterinya yang telah mulai lemah.

Wednesday, April 28, 2010

Kenali diri anda.

Kenali diri anda.

Anda yang mana satu?

Rasulullah S.A.W bersabda:

1. “Orang yang buruk antara kamu adalah yang tidak bernikah dan sehina-hina mayat antara kamu adalah yang tidak bernikah” (Hadith riwayat Bukhari)

2. “Aku melihat neraka dan aku sama sekali tidak pernah melihat pemandangan seperti ini. Dan aku melihat kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita, mereka bertanya: Mengapa wahai Rasulullah? Kerana kekufuran mereka, jawab baginda. Ada yang bertanya: Apakah mereka kufur kepada Allah? Baginda menjawab: Mereka mengkufuri suami dan mengkufuri kebaikannya. Seandainya engkau berbuat baik kepadanya selamanya (sepanjang hayat) kemudian dia melihat sesuatu yang tidak ia senangi, maka ia akan berkata: Aku tidak melihat kebaikan sedikitpun darimu”. (Hadith riwayat Bukhari)


3. Barangsiapa menikahi wanita kerana kemuliaannya, Allah tidak akan menambah padanya kecuali kehinaan, barangsiapa yang menikahi wanita kerana hartanya, maka Allah tidak akan menambah kecuali kefakiran Barangsiapa yang menikahi wanita kerana keturunannya, maka Allah tidak akan menambah kecuali kerendahan. Dan barangsiapa menikahi wanita kerana tidak menginginkan kecuali ingin menundukkan pandangannya dan menjaga kemaluannya atau kerana ingin menyambung silaturrahim, maka Allah akan memberkatinya kerana wanita itu dan Allah memberkati wanita itu kerana lelaki yang menikahinya itu. ( Hadith Riwayat at-Tirmizi dan tabrani)

4. Sesiapa waniata yang menambahkan rambutnya (pakai rambut palsu) yang bukan bahagian dari kepalanya, maka itu adalah kepalsuan (haram) yang ditambahkannya ke dalam rambutnya.” (Hadith Mutaffaq ‘Alaihi)


5. Ada dua kelompok penghuni neraka yang belum aku melihatnya, iaitu satu kaum yang bersamanya cabuk orang-orang dan wanita-wanita berpakaian tetapi telanjang, genit, kepalanya seperti pundak unta yang miring, mereka tidak akan masuk syurga, tidak juga mencium bau syurga, sesungguhnya bau syurga terhidu dari jarak ini dan itu”. (Hadith Riwayat Muslim)

6. “Mana-mana perempuan yang memakai minyak wangi, kemudian dia keluar ke khalayak ramai menemui kaum dengan maksud mereka dapat mencium bau wanginya, maka perempuan tersebut adalah penzina”. (Hadith Riwayat Abu Daud dan an-Nasaai).
7. Andaikata ditikam ke kepala salah seorang antara kamu dengan jarum besi, yang demikian itu lebih baik daripada dia menyentuh wanita yang tidak dihalalkan menyentuh baginya.” (Hadith Riwayat Tabrani)

8. “ Apabila umatku melakukan 15 pekara, akan diturunkan kepadanya bala (malapetaka) antaranya: Mengambil penyanyi perempuan dan memainkan alat muzik”. (Hadith riwayat at-Tirmizi)

9. Barangsiapa yang sengaja duduk memerhatikan seorang penyanyi perempuan atau tarian penari perempuan dan mendengar nyanyiannya, pasti Allah akan menuangkan cairan timah panas ke dalam telingannya pada hari kiamat”. (Hadith Riwayat Ibnu as-Sakir)

10. …….Maka kami berangkat hingga sampai ke sebuah tempat seperti tungku yang besar, dari dalamnya terdengar suara jeritan dan tangisan. Maka kami melonggokkan pandanagn kami ke dalamnya, ternyata di dalamnya terdapat banyak orang laki-laki dan perempuan semuanya telanjang. Sementara luapan api memanggang mereka dari bawah, apabila api itu dating menyembur mereka, mereka menjerit-jerit kepanasan. Aku bertanya: siapakah mereka?.......... Adapun berkenaan banyak lelaki dan perempuan yang berada di sebuah tempat mirip tungku api, sesungguhnya mereka adalah penzina laki-laki dan perempuan…… (Hadith Riwayat Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban)

11. “ Orang yang berzina dengan isteri tetangganya, pada hari kiamat nanti Allah tidak mahu memandangnya (dengan pandangan rahmat) dan tidak mahu mensucikan (dosa-dosa)nya, bahkan Allah berfirman kepadanya: Masuklah kamu ke dalam neraka bersama dengan orang-orang –orang yang memasukinya!” (Hadith Riwayat. Al-Kharaithi dan Ad-Dailami)

Anda yang mana satu? Renunglah dan sama-samalah kita meraih rahmat Allah dengan memohon ampun dariNYA…


Monday, April 26, 2010

Azab Allah kepada Insan berdosa

Azab Allah kepada Insan berdosa.

. Dari Samurah bin Jundub r.a. Katanya: "Rasulullah s.a.w. Itu sering benar bersabda kepada sahabat-sahabatnya: "Adakah seseorang di antara engkau semua ini ada melihat sesuatu dalam mimpinya?" Kemudian kepada beliau s.a.w. Itu diceriterakanlah sekehendak Allah perihal apa yang diceriterakan itu - oleh sahabat-sahabatnya. Sesungguhnya beliau s.a.w. Pernah bersabda pada suatu pagi, demikian:

"Tadi malam saya didatangi oleh dua malaikat. Kedua-nya berkata kepada saya: "Berangkatlah." Sayapun berangkatlah bersama dua malaikat itu. Kami lalu datang kepada seorang lelaki yang sedang berbaring, tiba-tiba ada orang lain yang sedang berdiri di atasnya dengan membawa sebuah batu besar. Sekonyong-konyong orang yang berdiri itu menjatuhkan batu tersebut ke arah kepala orang yang berbaring tadi, kemudian pecahlah kepalanya, sedang batu itu terus menggelinding ke arah sana. Yang melempar itu mengikuti perginya batu tersebut lalu mengambilnya. La tidak kembali kepada orang yang disiksanya itu, sehingga orang ini sembuh kembali kepalanya sebagaimana keadaannya semula. Orang yang berdiri itu lalu kembali mendekati orang yang berbaring dan melakukan sebagaimana yang dilakukan dalam kali pertama tadi -dan demikian seterusnya yaitu dijatuhi batu, kepalanya pecah lalu sembuh dijatuhi batu lagi, kepalanya pecah dan sembuh lagi dan selanjutnya."

Beliau s.a.w bersabda: "Saya lalu bertanya kepada dua malaikat yang mengajak berangkat dulu: "Subhanallah, siapakah ini?" Lalu keduanya berkata: "Berangkatlah, berangkatlah!" Kamipun berangkatlah, sehingga datanglah kami kepada seorang lelaki yang tidur terlentang pada tengkuknya, tiba-tiba di situ ada pula orang yang berdiri di atasnya dengan membawa sebuah alat pengait dari besi, sekonyong-konyong ia mendatangi orang yang terlentang tadi menuju ke salah satu belahan mukanya, kemudian memotong-motong ujung mulutnya sampai ke tengkuknya, juga dari lobang hidung ke tengkuknya serta dari mata ke tengkuknya. Setelah itu ia berpindah kepada belahan mukanya yang lain, lalu mengerjakan sebagaimana yang dikerjakan terhadap belahan muka yang satunya tadi. Belum lagi ia selesai mengerjakan yang ini, sehingga belahan pertama itu telah menjadi sembuh kembali sebagaimana dulunya, lalu diulangkanlah mengerjakan terhadap belahan pertama tadi sebagaimana cara melakukan pekerjaan yang mula-mula untuk pertama kalinya itu."

Beliau s.a.w. Bersabda: "Saya lalu bertanya: "Subhanallah, siapakah kedua orang ini?" Kedua malaikat yang menyertai saya itu berkata: "Berangkatlah, berangkatlah!" Kamipun berangkatlah, sehingga datanglah kami kepada sebuah tempat semacam dapur besar." Orang yang meriwayatkan Hadis ini berkata: "Saya mengira beliau s.a.w. Juga menyebutkan: "Dalam dapur itu terdengar teriakan yang bercampur-baur serta berbagai suara gemuruh." Kita menjenguk di dalamnya, tiba-tiba yang ada di situ adalah orang-orang lelaki dan orang-orang perempuan yang semuanya telanjang bulat. Mereka itu didatangi oleh nyala api yang berasal dari bawah mereka, Jikalau nyala api itu menjiiat-jilat tubuh mereka, maka merekapun menjerit kepanasan. Saya bertanya: "Siapakah orang-orang itu?" Kedua kawan saya itu menjawab: "Berangkatlah, berangkatlah!" Kamipun berangkatlah, sehingga kami tiba di suatu sungai." Orang yang meriwayatkan Hadis ini berkata: "Saya mengira beliau s.a.w. Juga mengucapkan: "Sungai itu merah warnanya bagaikan darah." Tiba-tiba di sungai itu ada seorang yang berenang menuju tepinya, sekonyong-konyong di tepi sungai tadi ada pula seorang lelaki lain yang telah mengumpulkan batu-batu besar di sisinya. Orang yang berenang itu terus berenang sekuat ia me-lakukannya, setelah hampir di tepinya, lalu datanglah orang yang sudah mengumpulkan batu-batu tadi dan yang berenang itu mem-bukakan mulutnya, kemudian dilemparnya dengan batu oleh yang ada di tepi. Sekali lagi orang itu berenang ke tengah terus kembali lagi dan setiap kembali, ia pun membukakan mulutnya lalu yang di tepi melemparkan batu tepat di mulutnya itu. Saya bertanya kepada kedua kawan saya: "Siapakah kedua orang itu - yakni yang berenang dan yang melempari?" Keduanya berkata kepada saya: "Berangkatlah, berangkatlah!" Kitapun berangkatlah sehingga datanglah kita kepada seseorang yang buruk sekali rupa roman mukanya, atau ia adalah sejelek-jelek orang lelaki yang pernah engkau lihat tentang rupa mukanya. Di sisinya ada api dan ia menyalakan itu dan ia berjalan di sekelilingnya. Saya bertanya lagi kepada kedua kawan saya: "Siapakah orang itu?" Keduanya men-jawab: "Berangkatlah, berangkatlah!" Kamipun berangkatlah, se-hingga datanglah kami di suatu taman yang rimbun tanamannya lagi panjang-panjang, di dalamnya tampaklah penuh sinar cahaya musim bunga, tiba-tiba di antara kedua sudut taman itu ada seorang lelaki yang tinggi perawakannya, hampir-hampir saya tidak dapat melihat kepalanya karena menjulang tinggi sekali ke langit, sedang di sekitar orang tersebut ada beberapa anak dan amat banyak sekali jumlah-nya dan saya tidak pernah samasekali melihat mereka itu. Saya bertanya: "Siapakah orang ini dan siapa pula anak-anak itu?" Kedua kawan saya menjawab: "Berangkatlah, berangkatlah!" Kamipun berangkatlah sehingga kami tiba di suatu pohon besar yang belum pernah samasekali saya melihat pohon yang lebih besar serta lebih indah daripadanya. Kedua kawan saya itu berkata: "Naiklahdi taman itu!" Kamipun naiklah menuju ke suatu kota yang dibangun dengan bata-bata yang terbuat dari emas dan bata-bata dari perak. Kami mendatangi pintu kota, lalu kami minta supaya dibukakan, kemudian pintupun dibukalah untuk kami. Kami masuk ke dalamnya, lalu kami dijemput oleh beberapa orang lelaki yang sebagian muka-muka mereka itu bagus-bagus sebagaimana yang pernah engkau lihat, sedang sebagiannya Iagi buruk sebagaimana yang pernah engkau lihat. Kedua kawan saya itu berkata kepada orang-orang tersebut: "Pergilah lalu terjunlah dalam sungai itu. Tiba-tiba sungai itu adalah sungai yang melintang dan airnya mengalir, seolah-olah airnya adalah susu kerena putihnya. Mereka lalu terjun di dalamnya kemudian kembali ke tempat kami, sedang keburukan muka-muka-nya sudah lenyap semua dan mereka berganti memiliki rupa muka yang sebagus-bagusnya.

Beliau s.a.w. Bersabda; kedua malaikat berkata kepada saya: "Inilah yang disebut syurga 'Adn dan di sana itu tempat kediaman Tuan." Penglihatan saya lalu naik ke atas, amat tinggi sekali, sekonyong-konyong tampaklah sebuah istana bagaikan awan yang putih sekali. Sekali Iagi keduanya berkata: "Nah, di sana itulah tempat tinggal Tuan." Saya berkata kepada keduanya: "Semoga Allah memberikan keberkahan kepada anda berdua. Sekarang biarkanlah saya ke sana akan masuk ke dalamnya." Keduanya berkata: "Adapun sekarang, maka jangan dulu, tetapi Tuan akan memasukinya nanti."

Seterusnya saya berkata kepada kedua kawan saya itu: "Sejak tadi malam saya telah melihat berbagai keajaiban, maka apakah sebenarnya yang saya lihat itu?" Keduanya berkata kepada saya: "Kini saya akan memberitahukan kepada Tuan.

Adapun orang pertama yang Tuan datangi, ia dipecah kepalanya dengan batu, maka sesungguhnya itulah orang yang mengambil al-Quran lalu menyisihkannya-yakni menolaknya sesudah mengerti isi dan maknanya, juga itulah orang yang tidur - yakni lalai - dari melakukan shalat-shalat yang diwajibkan.

Adapun orang yang Tuan datangi, ia sedang dipotong-potong ujung mulutnya sampai ke tengkuknya dan dari lobang hidung sampai ketengkuknya dan juga dari matanya sampai ketengkuknya itu ialah orang-orang yang pergi dari rumahnya lalu membuat kata-kata dusta dengan kedustaan yang sampai mencapai ke segaia penjuru - yakni mengobral kata-kata bohong.

Adapun orang-orang lelaki dan perempuan yang berada di dalam tempat semacam bangunan dapur besar itu adalah para pezina lelaki dan wanita.

Adapun orang lelaki yang Tuan datangi sedang berenang dalam sungai dan dilempari batu di mulutnya itu ialah pemakan riba.

Adapun orang yang tampak buruk sekali roman mukanya yang di sisinya ada api yang dinyalakan olehnya dan ia berjalan di sekelilingnya itu ialah malaikat , yaitu penjaga neraka Jahanam.

Adapun orang yang tinggi perawakannya yang ada di dalam taman, maka ia adalah Nabi Ibrahim a.s. Sedang anak-anak yang di sekelilingnya itu ialah setiap anak bayi yang mati atas kefitrahan."

Dalam riwayat al-Barqani disebutkan: "Anak yang mati me-netapi kefitrahan."

Sampai di sini lalu sebagian kaum Muslimin ada yang berkata: "Dan anak-anaknya kaum musyrikin bagaimanakah nasibnya, ya Rasulullah?" Beliau s.a.w. Menjawab: "Juga anak-anaknya kaum musyrikin termasuk di kalangan mereka itu."

Adapun orang yang sebagian mukanya bagus dan sebagian Iagi buruk, maka mereka itu ialah orang-orang yang mencampur- adukkan antara amal perbuatan yang shalih sedang yang lainnya jelek, tetapi Allah telah memberikan pengampunan kepada mereka itu."

(Riwayat Bukhari)

Thursday, February 4, 2010

Hadith Hudzaifah

Hadits Hudzaifah Rodhiallohu Ta’ala ‘Anhu

[Tulisan ini disadur dan diringkas dari kutaib yang berjudul “Qaulul Mubin fi Jama’atil Muslimin” karangan Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali, Penerbit Maktab Islamy Riyadh tanpa tahun, dan dimuat di majalah As-Sunnah edisi 07/1/1414-1993 hal. 8-13, diambil dari situs www.assunnah.or.id]

NASH HADITS
“Artinya: Dari Hudzaifah Ibnul Yaman rodhiallohu ta’ala ‘anhu berkata: Manusia bertanya kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya kepada beliau tentang keburukan karena khawatir jangan-jangan menimpaku. Maka aku bertanya; Wahai Rasulullah, sebelumnya kita berada di zaman Jahiliah dan keburukan, kemudian Alloh mendatangkan kebaikan ini. Apakah setelah ini ada keburukan? Beliau bersabda: ‘Ada’. Aku bertanya: Apakah setelah keburukan itu akan datang kebaikan? Beliau bersabda: “Ya, akan tetapi di dalamnya ada dakhanun”. Aku bertanya: Apakah dakhanun itu? Beliau menjawab: “Suatu kaum yang mensunnahkan selain sunnahku dan memberi petunjuk dengan selain petunjukku. Jika engkau menemui mereka maka ingkarilah”. Aku bertanya: Apakah setelah kebaikan itu ada keburukan? Beliau bersabda: “Ya”, dai - dai yang mengajak ke pintu Jahanam. Barang siapa yang mengijabahinya, maka akan dilemparkan ke dalamnya. Aku bertanya: Wahai Rasulullah, berikan ciri-ciri mereka kepadaku. Beliau bersabda: “Mereka mempunyai kulit seperti kita dan berbahasa dengan bahasa kita”. Aku bertanya: Apa yang engkau perintahkan kepadaku jika aku menemuinya? Beliau bersabda: “Berpegang teguhlah pada Jama’ah Muslimin dan imamnya”. Aku bertanya: “Bagaimana jika tidak ada jama’ah maupun imamnya?” Beliau bersabda: “Hindarilah semua firqah itu, walaupun dengan menggigit pokok pohon hingga maut menjemputmu sedangkan engkau dalam keadaan seperti itu”. (Riwayat Bukhari VI615-616, XIII/35. Muslim XII/135-238 Baghawi dalam Syarh Sunnah XV/14. Ibnu Majah no. 3979, 3981. Hakim IV/432. Abu Dawud no. 4244-4247.Baghawi XV/8-10. Ahmad V/386-387 dan hal. 403-404, 406 dan hal. 391-399)

MAKNA HADITS
Pertama, Mengenali Sabilul Mujrimin adalah kewajiban Syar’i.
Perlu diketahui bahwa Manhaj Rabbani yang abadi yang tertuang dalam uslub Qurani yang diturunkan ke hati Penutup Para Nabi tersebut tidak hanya mengajarkan yang haq saja untuk mengikuti jejak orang-orang beriman (Sabilul Mu’minin). Akan tetapi juga membuka kedok kebatilan dan menyingkap kekejiannya supaya jelas jalannya orang-orang yang suka berbuat dosa (Sabilul Mujrimin).

Alloh berfirman,

“Dan demikianlah, kami jelaskan ayat-ayat, supaya jelas jalannya orang-orang yang suka berbuat dosa”. (QS Al-An’am: 55)

Yang demikian itu karena istibanah (kejelasan) jalannya orang-orang yang suka berbuat dosa (Sabilul Mujrimin) secara langsung berakibat pada jelasnya pula Sabilul Mu’minin. Oleh karena itu istibanah (kejelasan) Sabilul Mujrimin merupakan salah satu sasaran dari beberapa sasaran penjelasan ayat-ayat Rabbani. Karena ketidakjelasan Sabilul Mujrimin akan berakibat langsung pada keraguan dan ketidakjelasan Sabilul Muminin. Oleh karena itu, menyingkap rahasia kekufuran dan kekejian adalah suatu kebutuhan yang sangat mendesak untuk menjelaskan keimanan, kebaikan dan kemaslahatan. Ada sebagian cendikiawan syair menyatakan.

“Aku kenali keburukan tidak untuk berbuat buruk, akan tetapi untuk menjaga diri”

“Barang siapa yang tidak dapat membedakan antara kebaikan dan keburukan, maka akan terjerumus ke dalamnya”

Hakikat inilah yang dimengerti oleh generasi pertama umat ini -Hudzaifah Ibnul Yaman rodhiallohu ‘anhu. Maka ia berkata, “Manusia bertanya kepada Rosululloh tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya tentang keburukan, karena khawatir akan terjebak di dalamnya”.

Kedua, Kekokohan Kita Dihancurkan dari Dalam
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda berkenan dengan keinginan kaum kafir untuk membinasakan kaum muslimin dan Islam, seperti yang dinyatakan dalam hadits Tsaubah rodhiallohu ‘anhu bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian seperti menyerbu makanan di atas piring. Berkata seseorang: Apakah karena sedikitnya kami waktu itu? Beliau bersabda: Bahkan kalian pada waktu itu banyak sekali, akan tetapi kamu seperti buih di atas air. Dan Alloh mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn. Seseorang bertanya: Wahai Rasulullah, apakah wahn itu? Beliau bersabda: Mencintai dunia dan takut mati”. (Riwayat Abu Dawud no. 4297. Ahmad V/278. Abu Na’im dalam Al-Hilyah)

Dari hadits di atas dapat disimpulkan bahwa. Pertama, Kaum kafir saling menghasung untuk menjajah Islam, negeri-negerinya serta penduduknya. Kedua, Negeri-negeri muslimin adalah negeri-negeri sumber kebaikan dan barakah yang mengundang air liur kaum kafir untuk menjajahnya. Ketiga, kaum kafir mengambil potensi alam negeri muslimin tanpa rintangan dan halangan sedikit pun. Keempat, kaum kafir tidak lagi gentar terhadap kaum Muslimin karena rasa takut mereka kepada kaum Muslimin sudah dicabut Alloh dari dalam hati mereka. Padahal pada mulanya Alloh menjanjikan kepada kaum Muslimin dalam firman-Nya,

“Akan kami jangkitkan di dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka mempersekutukan Alloh, di mana Alloh belum pernah menurunkan satu alasan pun tentangnya”. (QS Ali Imran: 151)

Dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda artinya, “Aku diberi lima perkara yang belum pernah diberikan kepada seorang nabi pun sebelumku: Aku ditolong dengan rasa ketakutan dengan jarak satu bulan perjalanan; dan dijadikan bumi untukmu sebagai tempat sujud ; …. dan seterusnya”. (Riwayat Bukhari, lihat Fathul Bari I/436. Muslim dalam Nawawi V/3-4 dari Jabir bin Abdullah rodhiallohu ‘anhu)

Akan tetapi kekhususan tersebut dibatasi oleh sabda beliau ShallAllohu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Tsauban yang lalu, yang menyatakan, “Alloh akan mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian …”.

Dari hadits ini mengertilah kita bahwa kekuatan umat Islam bukanlah terletak pada jumlah dan perbekalannya, atau pada artileri dan logistiknya. Akan tetapi kekuatannya terletak pada aqidahnya. Seperti yang kita saksikan ketika beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam menjawab pertanyaan yang berkenan dengan jumlah, maka beliau jawab, “Bahkan ketika itu kalian banyak sekali, akan tetapi kalian seperti buih di atas aliran air”. Kemudian apa yang menjadikan “pohon yang akarnya menghujam ke bumi dan cabangnya menjulang ke langit” itu seperti buih yang mengambang di atas air?

Sesungguhnya racun yang meluruhkan kekuatan kaum muslimin dan melemahkan gerakannya serta merenggut barokahnya bukanlah senjata dan pedang kaum kafir yang bersatu untuk membuat makar terhadap Islam, para pemeluknya dan negeri-negerinya. Akan tetapi adalah racun yang sangat keji yang mengalir dalam jasad kaum muslimin yang disebut oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam sebagai “Dakhanun”. Ibnu Hajar dalam Fathul Bari XIII/36 mengartikannya dengan hiqd (kedengkian), atau daghal (pengkhianatan dan makar), atau fasadul qalb (kerusakan hati). Semua itu mengisyaratkan bahwa kebaikan yang datang setelah keburukan tersebut tidak murni, akan tetapi keruh. Dan Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim XII/236-237, mengutip perkataan Abu ‘Ubaid yang menyatakan bahwa arti dakhanun adalah seperti yang disebut dalam hadits lain, “Tidak kembalinya hati pada fungsi aslinya”. (Riwayat Abu Dawud no. 4247)

Sedangkan makna aslinya adalah apabila warna kulit binatang itu keruh/suram. Maka seakan-akan mengisyaratkan bahwa hati mereka tidak bening dan tidak mampu membersihkan antara yang satu dengan yang lain. Kemudian berkata Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah XV/15: Bahwa sabda beliau: “Dan di dalamnya ada Dakhanun, yakni tidak ada kebaikan murni, akan tetapi di dalamnya ada kekeruhan dan kegelapan”. Adapun Al ‘Adzimul Abadi dalam ‘Aunil Ma’bud XI/316 menukil perkataan Al Qari yang berkata: “Asal kata dakhanun adalah kadurah (kekeruhan) dan warna yang mendekati hitam. Maka hal ini mengisyaratkan bahwa kebaikan tersebut tercemar oleh kerusakan (fasad)”.

Dan sesungguhnya penanam racun yang keji dan menjalar di kalangan umat ini tidak lain adalah oknum-oknum dari dalam sendiri. Seperti yang dinyatakan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam: “Mereka adalah dari kalangan bangsa kita dan berbahasa dengan bahasa kita”. Berkata Ibnu Hajar rohimahulloh dalam Fathul Bari XIII/36: “Yakni dari kaum kita, berbahasa seperti kita dan beragama dengan agama kita. Ini mengisyaratkan bahwa mereka adalah bangsa Arab”. Sedangkan Al Qabisi menyatakan -seperti dinukil oleh Ibnu Hajar- secara lahir maknanya adalah bahwa mereka adalah pemeluk dien (agama) kita, akan tetapi batinnya menyelisihi. Dan kulit sesuatu adalah lahirnya, yang pada hakikatnya berarti penutup badan. Mereka mempunyai sifat seperti yang dikatakan dalam hadits riwayat Muslim yang artinya “Akan ada di kalangan mereka orang yang berhati iblis dengan jasad manusia” (Riwayat Muslim)

Yakni mereka memberikan harapan-harapan kepada manusia berupa mashalih (pembangunan), siyadah (kepemimpinan) dan istiqlal (kemerdekaan dan kebebasan) .. dan umat merasa suka dengan propaganda mereka. Untuk itu mereka mengadakan pertemuan-pertemuan, muktamar-muktamar dan diskusi-diskusi. Oleh sebab itu mereka diberi predikat sebagai dai atau du’at -dengan dlamah pada huruf dal- merupakan bentuk jamak dari da’a yang berarti sekumpulan orang yang melazimi suatu perkara dan mengajak serta menghasung manusia untuk menerimanya. (Lihat ‘Aunil Ma’bud XI/317).

Ketiga, Jamaah minal Muslimin dan bukan Jamaah Muslimin/’Umm.
Kalau kita mengamati kenyataan, maka kita akan melihat bahwa faham hizbiyah (kelompok) telah mengalir di dalam otak sebagian besar kelompok yang menekuni medan dakwah ilalloh, di mana seolah-olah tidak ada kelompok lain kecuali kelompoknya, dan menafikan kelompok lain di sekitarnya. Persoalan ini terus berkembang, sehingga ada sebagian yang mendakwahkan bahwa merekalah Jama’ah Muslimin/Jamaah ‘Umm (Jama’ah Induk) dan pendirinya adalah imam bagi seluruh kaum muslimin, serta mewajibkan berbaiat kepadanya. Selain itu mereka mengkafirkan sawadul a’dzam (sebagian besar) muslimin, dan mewajibkan kelompok lain untuk bergabung dengan mereka serta berlindung di bawah naungan bendera mereka.

Kebanyakan mereka lupa, bahwa mereka bekerja untuk mengembalikan kejayaan Jamaatul Muslimin. Kalaulah Jamaatul Muslimin dan imam-nya itu masih ada, maka tidaklah akan terjadi ikhtilaf dan perpecahan ini di mana Alloh tidak menurunkan sedikit pun keterangan tentangnya.

Sebenarnya para pengamal untuk Islam itu adalah Jamaah minal muslimin (kumpulan sebagian dari muslimin) dan bukan Jamaatul Muslimin atau Jamaatul ‘Umm (Jamaah Induk), karena kaum muslimin sekarang ini tidak mempunyai Jamaah ataupun Imam. Ketahuilah wahai kaum muslimin, bahwa yang disebut Jamaah Muslimin adalah yang tergabung di dalamnya seluruh kaum muslimin yang mempunyai imam yang melaksanakan hukum-hukum Alloh. Adapun jamaah yang bekerja untuk mengembalikan daulah khilafah, mereka adalah jamaah minal muslimin yang wajib saling tolong menolong dalam urusannya dan menghilangkan perselisihan yang ada di antara individu supaya ada kesepakatan di bawah kalimat yang lurus dalam naungan kalimat tauhid.

Al-Hafidz Ibnu Hajar rohimahulloh dalam Fathul Bari XII/37 menukil perkataan Imam Thabari rohimahullo h yang menyatakan: “Berkata kaum (yakni para ulama), bahwa Jamaah adalah Sawadul A’dzam. Kemudian diceritakan dari Ibnu Sirin dari Abi Mas’ud, bahwa beliau mewasiatkan kepada orang yang bertanya kepadanya ketika ‘Utsman dibunuh, untuk berpegang teguh pada Jamaah, karena Alloh tidak akan mengumpulkan umat Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam kesesatan. Dan dalam hadits dinyatakan bahwa ketika manusia tidak mempunyai imam, dan manusia berpecah belah menjadi kelompok-kelompok maka janganlah mengikuti salah satu firqah. Hindarilah semua firqah itu jika kalian mampu untuk menghindari terjatuh ke dalam keburukan”.

Keempat, menjauhi semua firqah
Dinyatakan dalam hadits Hudzaifah tersebut supaya menjauhi semua firqah jika kaum muslimin tidak mempunyai jamaah dan tidak pula imam pada hari terjadi keburukan dan fitnah. Semua firqah tersebut pada dasarnya akan menjerumuskan ke dalam kesesatan, karena mereka berkumpul di atas perkataan/teori mungkar (mungkari minal qaul) atau perbuatan mungkar, atau hawa nafsu. Baik yang mendakwahkan mashalih (pembangunan) atau mathami’ (ketamakan) dan mathamih (utopia). Atau yang berkumpul di atas asas pemikiran kafir, seperti; sosialisme, komunisme, kapitalisme, dan demokrasi. Atau yang berkumpul di atas asas kedaerahan, kesukuan, keturunan, kemazhaban, atau yang lainnya. Sebab mereka semua itu akan menjerumuskan ke dalam neraka Jahanam, dikarenakan membawa misi selain Islam atau Islam yang sudah diubah…!

Kelima, jalan penyelesaiannya
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan kepada Hudzaifah untuk menjauhi semua firqah yang menyeru dan menjerumuskan ke neraka Jahanam, dan supaya memegang erat-erat pokok pohon (ashlu syajarah) hingga ajal menjemputnya sedangkan ia tetap dalam keadaan seperti itu. Dari pernyataan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam tersebut dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut.

Pertama, bahwa pernyataan itu mengandung perintah untuk melazimi Al Kitab dan As-Sunnah dengan pemahaman Salafuna Shalih. Hal ini seperti yang diisyaratkan dalam hadits riwayat ‘Irbadh Ibnu Sariyah yang artinya “Barang siapa yang masih hidup di antara kalian maka akan melihat perselisihan yang banyak. Dan waspadalah terhadap perkara-perkara yang diada-adakan karena hal itu sesat. Dan barang siapa yang menemui yang demikian itu, maka berpegang teguhlah pada sunnahku dan sunnah khulafa’ur rasyidin. Gigitlah ia dengan geraham-geraham kalian”. (Riwayat Abu Dawud no. 4607, Tirmidzi no. 2676, Ibnu Majah no. 440 dan yang lainnya)

Jika kita menggabungkan kedua hadits tersebut, yakni hadits Hudzaifah Ibnul Yaman rodhiallohu ‘anhu yang berisi perintah untuk memegang pokok-pokok pohon (ashlu syajarah) dengan hadits ‘Irbadh ini, maka terlihat makna yang sangat dalam. Yaitu perintah untuk ber-iltizam pada As-Sunnah An-Nabawiyah dengan pemahaman Salafuna As-Shalih Ridhwanullah ta’ala ‘alaihim manakala muncul firqah-firqah sesat dan hilangnya Jamaah Muslimin serta Imamnya.

Kedua, di sini ditunjukkan pula bahwa lafadz (an ta’adhdha bi ashli syajarah) dalam hadits Hudzaifah tersebut tidak dapat diartikan secara zhahir hadits. Tetapi maknanya adalah perintah untuk berpegang teguh, dan bersabar dalam memegang Al-Haq serta menjauhi firqah-firqah sesat yang menyaingi Al-Haq. Atau bermakna bahwa pohon Islam yang rimbun tersebut akan ditiup badai topan hingga mematahkan cabang-cabangnya dan tidak tinggal kecuali pokok pohonnya saja yang kokoh. Oleh karena itu maka wajib setiap muslim untuk berada di bawah asuhan pokok pohon ini walaupun harus ditebus dengan jiwa dan harta. Karena badai topan itu akan datang lagi lebih dahsyat.

Ketiga, oleh karena itu menjadi kewajiban bagi setiap muslim untuk mengulurkan tangannya kepada kelompok (firqah) yang berpegang teguh dengan pokok pohon itu untuk menghadapi kembalinya fitnah dan bahaya bala. Kelompok ini seperti disabdakan beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam akan selalu ada dan akan selalu muncul untuk menyokong kebenaran hingga yang terakhir dibunuh Dajjal.

Maraji’:

  1. Al Ilzamat wa at Tatabu oleh Ad-Daruquthni

  2. Tafsir Al-Qur’an Al-Adzim, oleh Ibnu Katsir

  3. Al Jami’ As Shahih, oleh Bukhari dengan Fathul Bari

  4. Haliyatul Auliya’ oleh Abu Na’im Al- Ashbahani

  5. Silsilah Al-Hadits As-Shahihah, oleh Muhammad Nashiruddien Al-Albani

  6. As-Sunnan, oleh Ibnu Majah

  7. As-Sunnan, oleh Abu Dawud

  8. As-Sunnan, oleh Tirmidzi

  9. Syiar A’lam An-Nubala, oleh Adz-Dzahabi

  10. Syarhu Sunnah, oleh Baghawi

  11. As-Shahih, oleh Muslim bin Al-Hujjaj

  12. ‘Aunil Ma’bud, oleh Syamsul Al-Abadi

  13. Al-Kaasyif, oleh Dzahabi

  14. Al-Mustadrak, oleh Hakim

  15. Al-Musnad, oleh Ahmad bin Hambal

Wednesday, February 3, 2010

Tambah ilmu

Lawat blog ini untuk mendapatkan kuliah-kuliah sunnah yang insyaAllah akan memberikan kita kefahaman yang lebih jelas tentang sunnah: http://alqiyamah.wordpress.com/audio/

Monday, July 27, 2009

CUBA BERKATA

Susah untuk menyata, susah untuk menyapa,
Kuat sungguh pengaruhnya,
Hingga kita dipandang hina,
Kuat sungguh namanya,
Hingga kita tidak didengarnya,
Kuat sungguh pangkatnya,
Hingga kita hanya menjadi kulinya,
Kuat sungguh penyokongnya,
Hingga kita tak boleh membetulkannya,
Hanya kerana kita manusia biasa,
Tak tinggi ilmu seperti dirinya,
Tetapi kita tahu sedikit kelemahannya,
Dan ingin membantunya,
Tapi dia tidak menhirau,
Walau ramai yang dah berkata,
Moga Allah tunjuk jalan padanya,
Moga dia kembali atas jalan kebenaran,
Untuk meraih Redha Allah atas jalan Rasulnya.

Thursday, July 16, 2009

Salam pertemuan

Assalamualaikum….
Kepada semua pembaca, lama sudah penulis menghilangkan diri, menyepi kerana ingin membetulkan iman, dan meraih ketenangan jiwa kerana dosa-dosa hati yang menebal dihati. Pahit, getir perjalanan hidup ini hanyalah secebis dari keperitan yang dialami oleh generasi awal islam yang begitu teguh memperjuangkan keimanan dan ketakwaan pada Allah swt.
Sedang kita asyik meneguk keindahan dunia yang penuh mempersonakan ini. Ramai yang terleka dan terpedaya sehingga ramai yang lebih mengkedepan dunia dari akhirat. Hatta dalam perihal nikah kahwin pun pekara ini sering berlaku. Kerana ingin Nampak mewah, gah, terkenal dan menampakkan dialah pasangan yang paling terkenal, segala macam cara digunakan untuk merialisasikan impian itu.
Tapi adakah semua itu bernilai di sisi Allah.
“Eh, apa kau ni, taksub sangat, kita hidup perlu seimbang dunia akhirat, baru betul”.
Mungkin inilah kata-kata yang biasa keluar dari mulut-mulut manusia apabila kita mempersoalkan apa yang dia lakukan dalam kehidupan ini. Dengan mudah kita menyakan “seimbang”,tetapi betulkah seimbang, atau hanya kata manis di mulut sahaja, hakikatnya tidak?
Kita tengok sahaja, bagaimana kita menjalankan kehidupan ini. Adakah benar seimbang dunia akhirat? Atau akhirat banyak kita ketepikan. Yang penting orang suka kita, tak kata kita kat belakang, puaskan hati orang, sampai sebenarnya, kita mengetepikan Allah yang menjadikan kita di muka bumi ini. Harta dicari, nama dicari dengan segala kaedah yang sungguh menjangkau kemampuan manusia biasa. Semata-mata ingin mendapatkan kepuasan hati yang sememangnya tidak akan pernah puas. Contoh mudah, orang zaman ini semua beranggapan, jika ada ijazah, masa depan cerah. Jika ada duit banyak, masa depan cerah. Jika ada rumah besar, masa depan cerah. Betulkah semua itu? Kenapa kita suka berangan-angan tinggi pada pekara yang tidak pasti sehingga mengetepikan sesuatu yang jauh lebih pasti iaitu MATI?.
Adakah, semua yang kita cari dan kumpul itu akan kita bawa bersama bila kita mati itu? Adakah ia yang akan jamin kita selamat dari azab Allah? Baru kini penulis faham, kenapa banyak ayat Allah menyatakan yang layak dapat syurga Allah adalah orang yang beriman dengan adanya hari kebangkitan. Ramai yang mengaku beriman adanya hari kebangkitan, tetapi berapa ramai yang beramal dengan imannya untuk hari kebangkitan?. Kita sering mengejar yang tak pasti, sedangkan yang pasti kita sering lupakan dan ketepikan. MATI BILA-BILA MASA SAHAJA MENJEMPUT, dah bersediakah kita?
Penulis sendiri banyak sisi kelemahan dan kekurangan, cuba untuk menasihatkan diri dan pembaca semua tentang ini agar kita sama-sama beringat. Berbuatlah sesuatu itu kerana Allah bukan kerana manusia. Contoh mudah, jika kita berbuat sesuatu itu kerana Allah, walaupun kita tak suka tugasan yang diamanahkan pada kita, tetapi kita tetap melaksanakan ia dengan bersungguh-sungguh. Seperti orang yang bekerja di bawah orang lain, walaupun setiap hari kena caci, atau dihina selagi mana masih pada landasan kewarasan manusia, dia tetap melaksanakan tugas dia dengan sebaiknya. Sebagaiman Salman Al-Farisi yang merupakan seorang Gabenor, dia mengangkat barang dagangan orang, sampai ketempat yang dituju tanpa rasa congkak pada pangkatnya. Seperti Khalid Al-walid walaupun, diturunkan jawatan daripada ketua perang kepada askar biasa, dia tetap melaksanakan tanggungjawabnya dengan penuh kesungguhan, tanpa mengharapkan imbalan manusia, tetapi yang diutamakan imbalan dan redha dari Allah.
“ Carilah Redha Allah walau dengan kebencian manusia itu jauh lebih baik dari redha Manusia dengan kemurkaan Allah”.