Showing posts with label Hadith. Show all posts
Showing posts with label Hadith. Show all posts

Monday, April 26, 2010

Azab Allah kepada Insan berdosa

Azab Allah kepada Insan berdosa.

. Dari Samurah bin Jundub r.a. Katanya: "Rasulullah s.a.w. Itu sering benar bersabda kepada sahabat-sahabatnya: "Adakah seseorang di antara engkau semua ini ada melihat sesuatu dalam mimpinya?" Kemudian kepada beliau s.a.w. Itu diceriterakanlah sekehendak Allah perihal apa yang diceriterakan itu - oleh sahabat-sahabatnya. Sesungguhnya beliau s.a.w. Pernah bersabda pada suatu pagi, demikian:

"Tadi malam saya didatangi oleh dua malaikat. Kedua-nya berkata kepada saya: "Berangkatlah." Sayapun berangkatlah bersama dua malaikat itu. Kami lalu datang kepada seorang lelaki yang sedang berbaring, tiba-tiba ada orang lain yang sedang berdiri di atasnya dengan membawa sebuah batu besar. Sekonyong-konyong orang yang berdiri itu menjatuhkan batu tersebut ke arah kepala orang yang berbaring tadi, kemudian pecahlah kepalanya, sedang batu itu terus menggelinding ke arah sana. Yang melempar itu mengikuti perginya batu tersebut lalu mengambilnya. La tidak kembali kepada orang yang disiksanya itu, sehingga orang ini sembuh kembali kepalanya sebagaimana keadaannya semula. Orang yang berdiri itu lalu kembali mendekati orang yang berbaring dan melakukan sebagaimana yang dilakukan dalam kali pertama tadi -dan demikian seterusnya yaitu dijatuhi batu, kepalanya pecah lalu sembuh dijatuhi batu lagi, kepalanya pecah dan sembuh lagi dan selanjutnya."

Beliau s.a.w bersabda: "Saya lalu bertanya kepada dua malaikat yang mengajak berangkat dulu: "Subhanallah, siapakah ini?" Lalu keduanya berkata: "Berangkatlah, berangkatlah!" Kamipun berangkatlah, sehingga datanglah kami kepada seorang lelaki yang tidur terlentang pada tengkuknya, tiba-tiba di situ ada pula orang yang berdiri di atasnya dengan membawa sebuah alat pengait dari besi, sekonyong-konyong ia mendatangi orang yang terlentang tadi menuju ke salah satu belahan mukanya, kemudian memotong-motong ujung mulutnya sampai ke tengkuknya, juga dari lobang hidung ke tengkuknya serta dari mata ke tengkuknya. Setelah itu ia berpindah kepada belahan mukanya yang lain, lalu mengerjakan sebagaimana yang dikerjakan terhadap belahan muka yang satunya tadi. Belum lagi ia selesai mengerjakan yang ini, sehingga belahan pertama itu telah menjadi sembuh kembali sebagaimana dulunya, lalu diulangkanlah mengerjakan terhadap belahan pertama tadi sebagaimana cara melakukan pekerjaan yang mula-mula untuk pertama kalinya itu."

Beliau s.a.w. Bersabda: "Saya lalu bertanya: "Subhanallah, siapakah kedua orang ini?" Kedua malaikat yang menyertai saya itu berkata: "Berangkatlah, berangkatlah!" Kamipun berangkatlah, sehingga datanglah kami kepada sebuah tempat semacam dapur besar." Orang yang meriwayatkan Hadis ini berkata: "Saya mengira beliau s.a.w. Juga menyebutkan: "Dalam dapur itu terdengar teriakan yang bercampur-baur serta berbagai suara gemuruh." Kita menjenguk di dalamnya, tiba-tiba yang ada di situ adalah orang-orang lelaki dan orang-orang perempuan yang semuanya telanjang bulat. Mereka itu didatangi oleh nyala api yang berasal dari bawah mereka, Jikalau nyala api itu menjiiat-jilat tubuh mereka, maka merekapun menjerit kepanasan. Saya bertanya: "Siapakah orang-orang itu?" Kedua kawan saya itu menjawab: "Berangkatlah, berangkatlah!" Kamipun berangkatlah, sehingga kami tiba di suatu sungai." Orang yang meriwayatkan Hadis ini berkata: "Saya mengira beliau s.a.w. Juga mengucapkan: "Sungai itu merah warnanya bagaikan darah." Tiba-tiba di sungai itu ada seorang yang berenang menuju tepinya, sekonyong-konyong di tepi sungai tadi ada pula seorang lelaki lain yang telah mengumpulkan batu-batu besar di sisinya. Orang yang berenang itu terus berenang sekuat ia me-lakukannya, setelah hampir di tepinya, lalu datanglah orang yang sudah mengumpulkan batu-batu tadi dan yang berenang itu mem-bukakan mulutnya, kemudian dilemparnya dengan batu oleh yang ada di tepi. Sekali lagi orang itu berenang ke tengah terus kembali lagi dan setiap kembali, ia pun membukakan mulutnya lalu yang di tepi melemparkan batu tepat di mulutnya itu. Saya bertanya kepada kedua kawan saya: "Siapakah kedua orang itu - yakni yang berenang dan yang melempari?" Keduanya berkata kepada saya: "Berangkatlah, berangkatlah!" Kitapun berangkatlah sehingga datanglah kita kepada seseorang yang buruk sekali rupa roman mukanya, atau ia adalah sejelek-jelek orang lelaki yang pernah engkau lihat tentang rupa mukanya. Di sisinya ada api dan ia menyalakan itu dan ia berjalan di sekelilingnya. Saya bertanya lagi kepada kedua kawan saya: "Siapakah orang itu?" Keduanya men-jawab: "Berangkatlah, berangkatlah!" Kamipun berangkatlah, se-hingga datanglah kami di suatu taman yang rimbun tanamannya lagi panjang-panjang, di dalamnya tampaklah penuh sinar cahaya musim bunga, tiba-tiba di antara kedua sudut taman itu ada seorang lelaki yang tinggi perawakannya, hampir-hampir saya tidak dapat melihat kepalanya karena menjulang tinggi sekali ke langit, sedang di sekitar orang tersebut ada beberapa anak dan amat banyak sekali jumlah-nya dan saya tidak pernah samasekali melihat mereka itu. Saya bertanya: "Siapakah orang ini dan siapa pula anak-anak itu?" Kedua kawan saya menjawab: "Berangkatlah, berangkatlah!" Kamipun berangkatlah sehingga kami tiba di suatu pohon besar yang belum pernah samasekali saya melihat pohon yang lebih besar serta lebih indah daripadanya. Kedua kawan saya itu berkata: "Naiklahdi taman itu!" Kamipun naiklah menuju ke suatu kota yang dibangun dengan bata-bata yang terbuat dari emas dan bata-bata dari perak. Kami mendatangi pintu kota, lalu kami minta supaya dibukakan, kemudian pintupun dibukalah untuk kami. Kami masuk ke dalamnya, lalu kami dijemput oleh beberapa orang lelaki yang sebagian muka-muka mereka itu bagus-bagus sebagaimana yang pernah engkau lihat, sedang sebagiannya Iagi buruk sebagaimana yang pernah engkau lihat. Kedua kawan saya itu berkata kepada orang-orang tersebut: "Pergilah lalu terjunlah dalam sungai itu. Tiba-tiba sungai itu adalah sungai yang melintang dan airnya mengalir, seolah-olah airnya adalah susu kerena putihnya. Mereka lalu terjun di dalamnya kemudian kembali ke tempat kami, sedang keburukan muka-muka-nya sudah lenyap semua dan mereka berganti memiliki rupa muka yang sebagus-bagusnya.

Beliau s.a.w. Bersabda; kedua malaikat berkata kepada saya: "Inilah yang disebut syurga 'Adn dan di sana itu tempat kediaman Tuan." Penglihatan saya lalu naik ke atas, amat tinggi sekali, sekonyong-konyong tampaklah sebuah istana bagaikan awan yang putih sekali. Sekali Iagi keduanya berkata: "Nah, di sana itulah tempat tinggal Tuan." Saya berkata kepada keduanya: "Semoga Allah memberikan keberkahan kepada anda berdua. Sekarang biarkanlah saya ke sana akan masuk ke dalamnya." Keduanya berkata: "Adapun sekarang, maka jangan dulu, tetapi Tuan akan memasukinya nanti."

Seterusnya saya berkata kepada kedua kawan saya itu: "Sejak tadi malam saya telah melihat berbagai keajaiban, maka apakah sebenarnya yang saya lihat itu?" Keduanya berkata kepada saya: "Kini saya akan memberitahukan kepada Tuan.

Adapun orang pertama yang Tuan datangi, ia dipecah kepalanya dengan batu, maka sesungguhnya itulah orang yang mengambil al-Quran lalu menyisihkannya-yakni menolaknya sesudah mengerti isi dan maknanya, juga itulah orang yang tidur - yakni lalai - dari melakukan shalat-shalat yang diwajibkan.

Adapun orang yang Tuan datangi, ia sedang dipotong-potong ujung mulutnya sampai ke tengkuknya dan dari lobang hidung sampai ketengkuknya dan juga dari matanya sampai ketengkuknya itu ialah orang-orang yang pergi dari rumahnya lalu membuat kata-kata dusta dengan kedustaan yang sampai mencapai ke segaia penjuru - yakni mengobral kata-kata bohong.

Adapun orang-orang lelaki dan perempuan yang berada di dalam tempat semacam bangunan dapur besar itu adalah para pezina lelaki dan wanita.

Adapun orang lelaki yang Tuan datangi sedang berenang dalam sungai dan dilempari batu di mulutnya itu ialah pemakan riba.

Adapun orang yang tampak buruk sekali roman mukanya yang di sisinya ada api yang dinyalakan olehnya dan ia berjalan di sekelilingnya itu ialah malaikat , yaitu penjaga neraka Jahanam.

Adapun orang yang tinggi perawakannya yang ada di dalam taman, maka ia adalah Nabi Ibrahim a.s. Sedang anak-anak yang di sekelilingnya itu ialah setiap anak bayi yang mati atas kefitrahan."

Dalam riwayat al-Barqani disebutkan: "Anak yang mati me-netapi kefitrahan."

Sampai di sini lalu sebagian kaum Muslimin ada yang berkata: "Dan anak-anaknya kaum musyrikin bagaimanakah nasibnya, ya Rasulullah?" Beliau s.a.w. Menjawab: "Juga anak-anaknya kaum musyrikin termasuk di kalangan mereka itu."

Adapun orang yang sebagian mukanya bagus dan sebagian Iagi buruk, maka mereka itu ialah orang-orang yang mencampur- adukkan antara amal perbuatan yang shalih sedang yang lainnya jelek, tetapi Allah telah memberikan pengampunan kepada mereka itu."

(Riwayat Bukhari)

Thursday, February 4, 2010

Hadith Hudzaifah

Hadits Hudzaifah Rodhiallohu Ta’ala ‘Anhu

[Tulisan ini disadur dan diringkas dari kutaib yang berjudul “Qaulul Mubin fi Jama’atil Muslimin” karangan Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali, Penerbit Maktab Islamy Riyadh tanpa tahun, dan dimuat di majalah As-Sunnah edisi 07/1/1414-1993 hal. 8-13, diambil dari situs www.assunnah.or.id]

NASH HADITS
“Artinya: Dari Hudzaifah Ibnul Yaman rodhiallohu ta’ala ‘anhu berkata: Manusia bertanya kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya kepada beliau tentang keburukan karena khawatir jangan-jangan menimpaku. Maka aku bertanya; Wahai Rasulullah, sebelumnya kita berada di zaman Jahiliah dan keburukan, kemudian Alloh mendatangkan kebaikan ini. Apakah setelah ini ada keburukan? Beliau bersabda: ‘Ada’. Aku bertanya: Apakah setelah keburukan itu akan datang kebaikan? Beliau bersabda: “Ya, akan tetapi di dalamnya ada dakhanun”. Aku bertanya: Apakah dakhanun itu? Beliau menjawab: “Suatu kaum yang mensunnahkan selain sunnahku dan memberi petunjuk dengan selain petunjukku. Jika engkau menemui mereka maka ingkarilah”. Aku bertanya: Apakah setelah kebaikan itu ada keburukan? Beliau bersabda: “Ya”, dai - dai yang mengajak ke pintu Jahanam. Barang siapa yang mengijabahinya, maka akan dilemparkan ke dalamnya. Aku bertanya: Wahai Rasulullah, berikan ciri-ciri mereka kepadaku. Beliau bersabda: “Mereka mempunyai kulit seperti kita dan berbahasa dengan bahasa kita”. Aku bertanya: Apa yang engkau perintahkan kepadaku jika aku menemuinya? Beliau bersabda: “Berpegang teguhlah pada Jama’ah Muslimin dan imamnya”. Aku bertanya: “Bagaimana jika tidak ada jama’ah maupun imamnya?” Beliau bersabda: “Hindarilah semua firqah itu, walaupun dengan menggigit pokok pohon hingga maut menjemputmu sedangkan engkau dalam keadaan seperti itu”. (Riwayat Bukhari VI615-616, XIII/35. Muslim XII/135-238 Baghawi dalam Syarh Sunnah XV/14. Ibnu Majah no. 3979, 3981. Hakim IV/432. Abu Dawud no. 4244-4247.Baghawi XV/8-10. Ahmad V/386-387 dan hal. 403-404, 406 dan hal. 391-399)

MAKNA HADITS
Pertama, Mengenali Sabilul Mujrimin adalah kewajiban Syar’i.
Perlu diketahui bahwa Manhaj Rabbani yang abadi yang tertuang dalam uslub Qurani yang diturunkan ke hati Penutup Para Nabi tersebut tidak hanya mengajarkan yang haq saja untuk mengikuti jejak orang-orang beriman (Sabilul Mu’minin). Akan tetapi juga membuka kedok kebatilan dan menyingkap kekejiannya supaya jelas jalannya orang-orang yang suka berbuat dosa (Sabilul Mujrimin).

Alloh berfirman,

“Dan demikianlah, kami jelaskan ayat-ayat, supaya jelas jalannya orang-orang yang suka berbuat dosa”. (QS Al-An’am: 55)

Yang demikian itu karena istibanah (kejelasan) jalannya orang-orang yang suka berbuat dosa (Sabilul Mujrimin) secara langsung berakibat pada jelasnya pula Sabilul Mu’minin. Oleh karena itu istibanah (kejelasan) Sabilul Mujrimin merupakan salah satu sasaran dari beberapa sasaran penjelasan ayat-ayat Rabbani. Karena ketidakjelasan Sabilul Mujrimin akan berakibat langsung pada keraguan dan ketidakjelasan Sabilul Muminin. Oleh karena itu, menyingkap rahasia kekufuran dan kekejian adalah suatu kebutuhan yang sangat mendesak untuk menjelaskan keimanan, kebaikan dan kemaslahatan. Ada sebagian cendikiawan syair menyatakan.

“Aku kenali keburukan tidak untuk berbuat buruk, akan tetapi untuk menjaga diri”

“Barang siapa yang tidak dapat membedakan antara kebaikan dan keburukan, maka akan terjerumus ke dalamnya”

Hakikat inilah yang dimengerti oleh generasi pertama umat ini -Hudzaifah Ibnul Yaman rodhiallohu ‘anhu. Maka ia berkata, “Manusia bertanya kepada Rosululloh tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya tentang keburukan, karena khawatir akan terjebak di dalamnya”.

Kedua, Kekokohan Kita Dihancurkan dari Dalam
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda berkenan dengan keinginan kaum kafir untuk membinasakan kaum muslimin dan Islam, seperti yang dinyatakan dalam hadits Tsaubah rodhiallohu ‘anhu bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian seperti menyerbu makanan di atas piring. Berkata seseorang: Apakah karena sedikitnya kami waktu itu? Beliau bersabda: Bahkan kalian pada waktu itu banyak sekali, akan tetapi kamu seperti buih di atas air. Dan Alloh mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn. Seseorang bertanya: Wahai Rasulullah, apakah wahn itu? Beliau bersabda: Mencintai dunia dan takut mati”. (Riwayat Abu Dawud no. 4297. Ahmad V/278. Abu Na’im dalam Al-Hilyah)

Dari hadits di atas dapat disimpulkan bahwa. Pertama, Kaum kafir saling menghasung untuk menjajah Islam, negeri-negerinya serta penduduknya. Kedua, Negeri-negeri muslimin adalah negeri-negeri sumber kebaikan dan barakah yang mengundang air liur kaum kafir untuk menjajahnya. Ketiga, kaum kafir mengambil potensi alam negeri muslimin tanpa rintangan dan halangan sedikit pun. Keempat, kaum kafir tidak lagi gentar terhadap kaum Muslimin karena rasa takut mereka kepada kaum Muslimin sudah dicabut Alloh dari dalam hati mereka. Padahal pada mulanya Alloh menjanjikan kepada kaum Muslimin dalam firman-Nya,

“Akan kami jangkitkan di dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka mempersekutukan Alloh, di mana Alloh belum pernah menurunkan satu alasan pun tentangnya”. (QS Ali Imran: 151)

Dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda artinya, “Aku diberi lima perkara yang belum pernah diberikan kepada seorang nabi pun sebelumku: Aku ditolong dengan rasa ketakutan dengan jarak satu bulan perjalanan; dan dijadikan bumi untukmu sebagai tempat sujud ; …. dan seterusnya”. (Riwayat Bukhari, lihat Fathul Bari I/436. Muslim dalam Nawawi V/3-4 dari Jabir bin Abdullah rodhiallohu ‘anhu)

Akan tetapi kekhususan tersebut dibatasi oleh sabda beliau ShallAllohu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Tsauban yang lalu, yang menyatakan, “Alloh akan mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian …”.

Dari hadits ini mengertilah kita bahwa kekuatan umat Islam bukanlah terletak pada jumlah dan perbekalannya, atau pada artileri dan logistiknya. Akan tetapi kekuatannya terletak pada aqidahnya. Seperti yang kita saksikan ketika beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam menjawab pertanyaan yang berkenan dengan jumlah, maka beliau jawab, “Bahkan ketika itu kalian banyak sekali, akan tetapi kalian seperti buih di atas aliran air”. Kemudian apa yang menjadikan “pohon yang akarnya menghujam ke bumi dan cabangnya menjulang ke langit” itu seperti buih yang mengambang di atas air?

Sesungguhnya racun yang meluruhkan kekuatan kaum muslimin dan melemahkan gerakannya serta merenggut barokahnya bukanlah senjata dan pedang kaum kafir yang bersatu untuk membuat makar terhadap Islam, para pemeluknya dan negeri-negerinya. Akan tetapi adalah racun yang sangat keji yang mengalir dalam jasad kaum muslimin yang disebut oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam sebagai “Dakhanun”. Ibnu Hajar dalam Fathul Bari XIII/36 mengartikannya dengan hiqd (kedengkian), atau daghal (pengkhianatan dan makar), atau fasadul qalb (kerusakan hati). Semua itu mengisyaratkan bahwa kebaikan yang datang setelah keburukan tersebut tidak murni, akan tetapi keruh. Dan Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim XII/236-237, mengutip perkataan Abu ‘Ubaid yang menyatakan bahwa arti dakhanun adalah seperti yang disebut dalam hadits lain, “Tidak kembalinya hati pada fungsi aslinya”. (Riwayat Abu Dawud no. 4247)

Sedangkan makna aslinya adalah apabila warna kulit binatang itu keruh/suram. Maka seakan-akan mengisyaratkan bahwa hati mereka tidak bening dan tidak mampu membersihkan antara yang satu dengan yang lain. Kemudian berkata Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah XV/15: Bahwa sabda beliau: “Dan di dalamnya ada Dakhanun, yakni tidak ada kebaikan murni, akan tetapi di dalamnya ada kekeruhan dan kegelapan”. Adapun Al ‘Adzimul Abadi dalam ‘Aunil Ma’bud XI/316 menukil perkataan Al Qari yang berkata: “Asal kata dakhanun adalah kadurah (kekeruhan) dan warna yang mendekati hitam. Maka hal ini mengisyaratkan bahwa kebaikan tersebut tercemar oleh kerusakan (fasad)”.

Dan sesungguhnya penanam racun yang keji dan menjalar di kalangan umat ini tidak lain adalah oknum-oknum dari dalam sendiri. Seperti yang dinyatakan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam: “Mereka adalah dari kalangan bangsa kita dan berbahasa dengan bahasa kita”. Berkata Ibnu Hajar rohimahulloh dalam Fathul Bari XIII/36: “Yakni dari kaum kita, berbahasa seperti kita dan beragama dengan agama kita. Ini mengisyaratkan bahwa mereka adalah bangsa Arab”. Sedangkan Al Qabisi menyatakan -seperti dinukil oleh Ibnu Hajar- secara lahir maknanya adalah bahwa mereka adalah pemeluk dien (agama) kita, akan tetapi batinnya menyelisihi. Dan kulit sesuatu adalah lahirnya, yang pada hakikatnya berarti penutup badan. Mereka mempunyai sifat seperti yang dikatakan dalam hadits riwayat Muslim yang artinya “Akan ada di kalangan mereka orang yang berhati iblis dengan jasad manusia” (Riwayat Muslim)

Yakni mereka memberikan harapan-harapan kepada manusia berupa mashalih (pembangunan), siyadah (kepemimpinan) dan istiqlal (kemerdekaan dan kebebasan) .. dan umat merasa suka dengan propaganda mereka. Untuk itu mereka mengadakan pertemuan-pertemuan, muktamar-muktamar dan diskusi-diskusi. Oleh sebab itu mereka diberi predikat sebagai dai atau du’at -dengan dlamah pada huruf dal- merupakan bentuk jamak dari da’a yang berarti sekumpulan orang yang melazimi suatu perkara dan mengajak serta menghasung manusia untuk menerimanya. (Lihat ‘Aunil Ma’bud XI/317).

Ketiga, Jamaah minal Muslimin dan bukan Jamaah Muslimin/’Umm.
Kalau kita mengamati kenyataan, maka kita akan melihat bahwa faham hizbiyah (kelompok) telah mengalir di dalam otak sebagian besar kelompok yang menekuni medan dakwah ilalloh, di mana seolah-olah tidak ada kelompok lain kecuali kelompoknya, dan menafikan kelompok lain di sekitarnya. Persoalan ini terus berkembang, sehingga ada sebagian yang mendakwahkan bahwa merekalah Jama’ah Muslimin/Jamaah ‘Umm (Jama’ah Induk) dan pendirinya adalah imam bagi seluruh kaum muslimin, serta mewajibkan berbaiat kepadanya. Selain itu mereka mengkafirkan sawadul a’dzam (sebagian besar) muslimin, dan mewajibkan kelompok lain untuk bergabung dengan mereka serta berlindung di bawah naungan bendera mereka.

Kebanyakan mereka lupa, bahwa mereka bekerja untuk mengembalikan kejayaan Jamaatul Muslimin. Kalaulah Jamaatul Muslimin dan imam-nya itu masih ada, maka tidaklah akan terjadi ikhtilaf dan perpecahan ini di mana Alloh tidak menurunkan sedikit pun keterangan tentangnya.

Sebenarnya para pengamal untuk Islam itu adalah Jamaah minal muslimin (kumpulan sebagian dari muslimin) dan bukan Jamaatul Muslimin atau Jamaatul ‘Umm (Jamaah Induk), karena kaum muslimin sekarang ini tidak mempunyai Jamaah ataupun Imam. Ketahuilah wahai kaum muslimin, bahwa yang disebut Jamaah Muslimin adalah yang tergabung di dalamnya seluruh kaum muslimin yang mempunyai imam yang melaksanakan hukum-hukum Alloh. Adapun jamaah yang bekerja untuk mengembalikan daulah khilafah, mereka adalah jamaah minal muslimin yang wajib saling tolong menolong dalam urusannya dan menghilangkan perselisihan yang ada di antara individu supaya ada kesepakatan di bawah kalimat yang lurus dalam naungan kalimat tauhid.

Al-Hafidz Ibnu Hajar rohimahulloh dalam Fathul Bari XII/37 menukil perkataan Imam Thabari rohimahullo h yang menyatakan: “Berkata kaum (yakni para ulama), bahwa Jamaah adalah Sawadul A’dzam. Kemudian diceritakan dari Ibnu Sirin dari Abi Mas’ud, bahwa beliau mewasiatkan kepada orang yang bertanya kepadanya ketika ‘Utsman dibunuh, untuk berpegang teguh pada Jamaah, karena Alloh tidak akan mengumpulkan umat Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam kesesatan. Dan dalam hadits dinyatakan bahwa ketika manusia tidak mempunyai imam, dan manusia berpecah belah menjadi kelompok-kelompok maka janganlah mengikuti salah satu firqah. Hindarilah semua firqah itu jika kalian mampu untuk menghindari terjatuh ke dalam keburukan”.

Keempat, menjauhi semua firqah
Dinyatakan dalam hadits Hudzaifah tersebut supaya menjauhi semua firqah jika kaum muslimin tidak mempunyai jamaah dan tidak pula imam pada hari terjadi keburukan dan fitnah. Semua firqah tersebut pada dasarnya akan menjerumuskan ke dalam kesesatan, karena mereka berkumpul di atas perkataan/teori mungkar (mungkari minal qaul) atau perbuatan mungkar, atau hawa nafsu. Baik yang mendakwahkan mashalih (pembangunan) atau mathami’ (ketamakan) dan mathamih (utopia). Atau yang berkumpul di atas asas pemikiran kafir, seperti; sosialisme, komunisme, kapitalisme, dan demokrasi. Atau yang berkumpul di atas asas kedaerahan, kesukuan, keturunan, kemazhaban, atau yang lainnya. Sebab mereka semua itu akan menjerumuskan ke dalam neraka Jahanam, dikarenakan membawa misi selain Islam atau Islam yang sudah diubah…!

Kelima, jalan penyelesaiannya
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan kepada Hudzaifah untuk menjauhi semua firqah yang menyeru dan menjerumuskan ke neraka Jahanam, dan supaya memegang erat-erat pokok pohon (ashlu syajarah) hingga ajal menjemputnya sedangkan ia tetap dalam keadaan seperti itu. Dari pernyataan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam tersebut dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut.

Pertama, bahwa pernyataan itu mengandung perintah untuk melazimi Al Kitab dan As-Sunnah dengan pemahaman Salafuna Shalih. Hal ini seperti yang diisyaratkan dalam hadits riwayat ‘Irbadh Ibnu Sariyah yang artinya “Barang siapa yang masih hidup di antara kalian maka akan melihat perselisihan yang banyak. Dan waspadalah terhadap perkara-perkara yang diada-adakan karena hal itu sesat. Dan barang siapa yang menemui yang demikian itu, maka berpegang teguhlah pada sunnahku dan sunnah khulafa’ur rasyidin. Gigitlah ia dengan geraham-geraham kalian”. (Riwayat Abu Dawud no. 4607, Tirmidzi no. 2676, Ibnu Majah no. 440 dan yang lainnya)

Jika kita menggabungkan kedua hadits tersebut, yakni hadits Hudzaifah Ibnul Yaman rodhiallohu ‘anhu yang berisi perintah untuk memegang pokok-pokok pohon (ashlu syajarah) dengan hadits ‘Irbadh ini, maka terlihat makna yang sangat dalam. Yaitu perintah untuk ber-iltizam pada As-Sunnah An-Nabawiyah dengan pemahaman Salafuna As-Shalih Ridhwanullah ta’ala ‘alaihim manakala muncul firqah-firqah sesat dan hilangnya Jamaah Muslimin serta Imamnya.

Kedua, di sini ditunjukkan pula bahwa lafadz (an ta’adhdha bi ashli syajarah) dalam hadits Hudzaifah tersebut tidak dapat diartikan secara zhahir hadits. Tetapi maknanya adalah perintah untuk berpegang teguh, dan bersabar dalam memegang Al-Haq serta menjauhi firqah-firqah sesat yang menyaingi Al-Haq. Atau bermakna bahwa pohon Islam yang rimbun tersebut akan ditiup badai topan hingga mematahkan cabang-cabangnya dan tidak tinggal kecuali pokok pohonnya saja yang kokoh. Oleh karena itu maka wajib setiap muslim untuk berada di bawah asuhan pokok pohon ini walaupun harus ditebus dengan jiwa dan harta. Karena badai topan itu akan datang lagi lebih dahsyat.

Ketiga, oleh karena itu menjadi kewajiban bagi setiap muslim untuk mengulurkan tangannya kepada kelompok (firqah) yang berpegang teguh dengan pokok pohon itu untuk menghadapi kembalinya fitnah dan bahaya bala. Kelompok ini seperti disabdakan beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam akan selalu ada dan akan selalu muncul untuk menyokong kebenaran hingga yang terakhir dibunuh Dajjal.

Maraji’:

  1. Al Ilzamat wa at Tatabu oleh Ad-Daruquthni

  2. Tafsir Al-Qur’an Al-Adzim, oleh Ibnu Katsir

  3. Al Jami’ As Shahih, oleh Bukhari dengan Fathul Bari

  4. Haliyatul Auliya’ oleh Abu Na’im Al- Ashbahani

  5. Silsilah Al-Hadits As-Shahihah, oleh Muhammad Nashiruddien Al-Albani

  6. As-Sunnan, oleh Ibnu Majah

  7. As-Sunnan, oleh Abu Dawud

  8. As-Sunnan, oleh Tirmidzi

  9. Syiar A’lam An-Nubala, oleh Adz-Dzahabi

  10. Syarhu Sunnah, oleh Baghawi

  11. As-Shahih, oleh Muslim bin Al-Hujjaj

  12. ‘Aunil Ma’bud, oleh Syamsul Al-Abadi

  13. Al-Kaasyif, oleh Dzahabi

  14. Al-Mustadrak, oleh Hakim

  15. Al-Musnad, oleh Ahmad bin Hambal

Friday, September 26, 2008

Bahaya Membangkang Hadith

Bahaya Membangkang Hadis Nabi S.A.W

Dengan Logik Akal & Ucapan Manusia

Disediakan oleh : Mohd Hairi Nonchi (Pendidikan Dengan Sains Sosial, UMS)

Imam Ahmad bin Hanbal r.h telah berpesan: “Barangsiapa yang menolak (membantah) hadis Rasulullah s.a.w, dia berada di jurang kebinasaan” [1]

Dalam riwayat al-Fadhl bin Zaid, Imam Ahmad bin Hanbal r.h berkata : “Aku melihat di mushhaf al-Qur’an, maka aku temui padanya (perintah) untuk taat kepada Rasulullah s.a.w terdapat pada 33 tempat” Kemudian beliau terus membaca beberapa kali ayat ini :“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa fitnah atau ditimpa azab yang pedih” (Surah al-Nuur : 63).

Lalu beliau (Imam Ahmad) bertanya: “Apakah yang dimaksudkan dengan fitnah? (iaitu) kesyirikan, katanya, kerana jika dia menolak sebahagian perkataan (hadis) dia dikhuatirkan akan muncul dalam hatinya kecenderungan untuk menyimpang (sesat), lalu hatinya pun menyimpang (dari kebenaran) dan membinasakannya, kemudian Imam Ahmad r.h membaca ayat di bawah ini: “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak (disifatkan) beriman sehingga mereka menjadikanmu (wahai Muhammad) sebagai hakim dalam (memutuskan hukum) dalam perkara yang mereka perselisihkan...” (Surah al-Nisaa’ : 65)

Dikatakan kepada Abu Talib al-Misykani, bahawasanya ada segolongan orang yang meningalkan hadis Rasulullah s.a.w, lalu mengambil pendapat Sufyan (al-Tsauri), maka beliau berkata:“ Aku merasa hairan pada suatu kaum yang telah mendengar hadis Rasulullah s.a.w dan mengetahui kesahihan sanadnya[2], namun mereka meninggalkannya dan mengambil pendapat Sufyan dan lainnya. Allah s.w.t berfirman: “Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa fitnah dan azab yang pedih”. Apakah engkau tahu makna ‘al-fitnah’? iaitu kekufuran. Allah s.w.t berfirman : “Dan fitnah (kekufuran) itu lebih besar (dosanya) daripada pembunuhan” (Surah al-Baqarah : 217)

Maka (dikhuatirkan) mereka meninggalkan hadis dari Rasulullah s.a.w dan dikuasai oleh hawa nafsu mereka sehingga beralih kepada logika (logik akal). Maka, jika seorang menyelisihi perintah beliau (Rasulullah s.a.w) telah diperingati agar berwaspada dari kekafiran dan kesyirikan atau azab yang pedih, hal ini menunjukkan bahawa perbuatan tersebut (menyelisihi Rasulullah s.a.w) dapat mengheret seseorang kepada kekafiran atau ‘azab yang pedih”. [3]

Daripada Ibn Syihab bahawa Salim bin Abdullah menceritakan, dia mendengar seorang lelaki dari Syam bertanya Abdullah bin ‘Umar berkenaan melakukan Tamattu’ dalam umrah ketika haji. Abdullah bin ‘Umar menjawab: Ia halal. Kemudian berkata seorang di kalangan orang Syam (kepada Abdullah bin ‘Umar) : “Sesungguhnya bapamu (‘Umar) telah telarangnya. Abdullah bin ‘Umar menjawab: Engkau lihat sekiranya bapa aku melarang daripadanya tetapi ia dilakukan oleh Rasulullah s.a.w, adakah bapaku perlu diikuti atau Rasulullah s.a.w ?!” [4]

Daripada Qatadah, beliau meriwayatkan : Ibnu Sirin telah memberitahu kepada seorang lelaki tantang sebuah hadis daripada Nabi s.a.w. Kemudian lelaki itu berkata: Tetapi si fulan berkata begini dan begini. Maka Ibnu Sirin berkata: Aku berkata ini hadis daripada Nabi s.a.w tetapi engkau berkata si fulan telah berkata begini dan begitu. Aku tidak akan bercakap dengan engkau selama-lamanya !!” [5]

‘Urwah berkata kepada Ibnu ‘Abbas r.a : “Celaka engkau, engkau telah menyesatkan manusia! Kerana engkau memerintahkan untuk melakukan ibadah umrah pada sepuluh hari (pertama bulan Dzulhijjah) padahal tidak ada (disunnahkan) umrah pada hari-hari itu”. Maka Ibnu ‘Abbas berkata : “Ya Uray, tanyakanlah pada ibumu!”. ‘Urwah berkata: “Bahawasanya Abu Bakar dan ‘Umar tidak pernah berkata (berpendapat) seperti itu, sedangkan mereka benar-benar lebih mengetahui dan lebih mengikuti Rasulullah s.a.w daripadamu”. Maka dijawab oleh Ibnu ‘Abbas r.a: “Di sinilah kalian didatangi! Kami membawakan kepadamu (hadis atau perkataan) Rasulullah s.a.w dan kamu membawakan (perkataan) Abu Bakar dan ‘Umar (untuk membantah hadis Rasulullah s.a.w – pent) ?!” Dalam riwayat yang lain, Ibnu ‘Abbas r.a berkara kepadanya: “Celaka engkau! Apakah mereka berdua (Abu Bakar dan Umar) lebih engkau dahulukan ataukah yang termaktub dalam al-Qur’an dan disunnahkan oleh Rasulullah s.a.w bagi sahabat dan umatnya?!”

Setelah membawakan ucapan Ibnu ‘Abbas r.a di atas, Syaikh ‘Abdurrahman bin Hasan r.h menuturkan: “Dalam ucapan Ibnu ‘Abbas terdapat dalil yang menunjukkan bahawasanya seseorang yang telah sampai kepadanya suatu dalil (daripada hadis Rasulullah s.a.w yang sahih) lalu tidak mengambilnya kerana bertaklid kepada imamnya, maka orang itu wajib diingkari dengan keras kerana sikapnya yang menyelisihi dalil” [6]

Firman Allah s.w.t : “Wahai orang-orang yang beriman, jangalah kamu meninggikan suara kamu melebihi suara Nabi dan janganlah kamu menyaringkan suara (dengan lantang) semasa bercakap dengannya sebagaimana kamu menyaringkan suara semasa bercakap sesama kamu. (Larangan demikian) supaya amal-amal kamu tidak terhapus pahalanya, sedangkan kamu tidak menyedari” (Surah al-Hujarat : 2)

Berhubung dengan ayat di atas, Ibnu al-Qayyim al-Jauziyah r.h dalam kitabnya I’laamul Muwaqqi’iin, jilid 2, halaman 94 berkata: “Sekiranya meninggikan suara mengatasi suara Nabi s.a.w menjadi penyebab kepada terhapusnya (pahala) amalan, bagaimana pula kedudukan seseorang yang mendahulukan pendapat, akal, siasah dan pengetahuannya (melebihi) daripada apa yang dibawa (disunnahkan) oleh Nabi s.a.w. Sudah tentulah amalannya lebih mudah terhapus” [7]

Muhammad bin Nasr al-Marwazi (w294H) memberitahu bahawa Ishaq bin Rahawaih (w238H) berkata : “Sesiapa yang telah menerima daripada Rasulullah s.a.w khabar (hadis) yang diyakini kesahihannya, kemudian beliau menolaknya tanpa berselindung, maka dia menjadi kafir. Hujah kami dalam mengkafirkan golongan ini ialah firman Allah s.w.t : “Maka demi Tuhanmu (wahai Muhammad)! Mereka tidak disifatkan beriman sehingga mereka menjadikan engkau hakim dalam mana-mana perselisihan yang timbul di antara mereka, kemudian mereka pula tidak merasa di hati mereka sesuatu keberatan dari apa yang telah engkau hukumkan dan mereka menerima keputusan itu dengan sepenuhnya” (Surah al-Nisaa’ : 65) [8]

“Umar bin al-Khattab r.a menuturkan : “Janganlah kamu duduk dengan orang-orang yang berpegang kepada rasional (lojik akal) mereka, kerana sesugguhnya mereka itu musuh-musuh sunnah Rasulullah s.a.w, mereka tidak mampu menghafal (memelihara) sunnah, mereka lupa (dalam sebuah riwayat, mereka diserang) hadis-hadis Rasulullah s.a.w sehingga mereka pun tidak mampu untuk memahaminya, mereka ditanya tentang hal yang tidak mereka ketahui lalu merasa malu untuk menyatakan : ‘Kami tidak tahu’, sehingga mereka pun berfatwa dengan akal mereka, maka mereka tersesat dari jalan yang lurus. Sesungguhnya, Nabimu (Muhammad s.a.w) tidaklah diwafatkan kecuali setelah Allah s.w.t mencukupi dengan wahyu dan menjauhi lojik akal, dan seandainya akal itu lebih utama daripada Sunnah, nescaya mengusap bahagian bawah kedua sepatu/kasut (khuf) lebih utama daripada mengusap bahagian atasnya ” [9]



[1] Diukil daripada buku Sifat Solat Nabi, karya Syaikh Nashiruddin al-Albani, terbitan Media Hidayah, Yogyakarta, cetakan 2000, ms. 61

[2] Sanad bermaksud rantaian periwayat hadis yang meriwayatkan sesuatu hadis.

[3] Lihat kitab ash-Shaarimul Masluul, ms. 56-57 dna ucapan Imam Ahmad yang pertama dapat anda ketemui pada kitab al-Ibaanah­ karya Ibnu Baththah, no: 97. Penulis nukil daripada buku Sittu Durar min Ushuuli Ahlil Atsar oleh ‘Abdul Malik bin Ahmad Ramadhani (dalam edisi terjemahan bertajuk 6 Pilar Utama Dakwah Salafiyyah oleh Mubarak B.M Bamuallim Lc.) terbitan Pustaka Imam Syafi’i, Jakarta, cetakan kedua 2005, ms. 187-189

[4] Driwayatkan oleh al-Tirmizi dengan sanad yang sahih. Dinukil daripada buku Amalan Berzikir : Antara Sunnah & Rekaan Manusia karya Mohd Khairil Anwar bin Abdul Latif, Karya Bestari, Shah Alam, Selangor, cetakan 2007, ms. 11-12

[5] Diriwayatkan oleh al-Darimi. Dinukil daripada buku Amalan Berzikir : Antara Sunnah & Rekaan Manusia ms. 12

[6] 6 Pilar Utama Dakwah Salafiyyah, ms. 120-121.

[7] Dinukil daripada buku Amalan Berzikir : Antara Sunnah & Rekaan Manusia, ms. 11

[8] Sejarah Perkembangan Hadis, Rosli Mokhtar dan Mohd Fikri Che Hussain, Syarikat Jahabersa, Johor Bahru, cetakan 2008, ms. 7-8

[9] Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Zumanain dalam Ushuulu Sunnah – no: 8, al-Lalika’i dalam Syarh Ushuulil I’tiqaad – no: 201, al-Khathib al-Baghdadi dalam al-Faqiih wal Mutaffaqqih – no: 476-480, Ibnu ‘Abdil Barr dalam Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlih – no: 2001, 2003, 2005, Ibnu Hazm dalam al-Ihkaam, IV/42-43, al-Baihaqi dalam al-Madhkal, 312, Qiwamus Sunnah dalam al-Hujjah, I/205, pada sebahagian sanadnya ada yang lemah dan ada pula yang terputus, namun demikian, sebahagian sanad menguatkan sebahagian yang lain. Oleh kerana itu, Ibnu al-Qayyim r.h berkata: “Sanad-sanad ucapan ‘Umar ini sangat sahih”. Lihat I’laamul Muwaqqi’iin, I/44. Dinukil dan diubahsuai dengan sedikit suntingan bahasa daripada buku 6 Pilar Utama Dakwah Salafiyyah, ms. 116-118.